Haji Murah atau Hajingan ?

Alhamdulillah ketika mengambil raport si bungsu Salman al Farizi (anak nomor 9) yang gedenya sama dengan cucuku, Novia Soraya Nova ketemu dengan keturunan langsung pangeran Jaya Karta yang lulusan gontor dan membuka pesantren anak yatim sekaligus TK di samping pesantrenku. Saya menyebutnya Gus Bakar, karena dia menjadi rujukan bagi masyarakat Rawamangun Kaum, Jakarta Timur.



“Afwan Gus, saya akan berangkat haji plus apa bisa ya tahun ini daftar langsung, tahun ini juga berangkat. Karena ada yang menawariku haji plus dengan sponsor hanya membayar Rp 25 juta saja.”

Saya terdiam dan saya biarkan dia meneruskan ceritannya, bahwa ada empat orang jamaahnya yang mendapatkan harta warisan dan akan di jadikan sarana untuk berangkat haji. Dia semalaman sudah diskusi dengan sang istri dan semangatnya semakin membara ketika melihat kedatangan saya. Alhamdulillah Gus ana nunggu antum, katanya bersemangat bagaimana menurut antum ada umroh yang hanya bayar Rp 7 juta bahkan Rp 3,5 juta saja dan ada haji plus yang hanya mbayar Rp 25 juta bahkan ada yang hanya Rp 5 juta saja ?

Saya jadi teringat nasib beberapa teman Uminya Nova yang tak jadi berangkat Haji padahal sudah memenuhi persyaratan haji membayar dengan normal haji reguler sebesar Rp 30 juta lebih. Bahkan di daerah Bangka Belitung saya sendiri yang memberikan pembekalan ceramah safar pada 290 jamaah calon haji kemarin dengan membayar 50 juta  lebih. Mereka ini baik yang reguler maupun yang plus tidak jadi berangkat. KH. Munahar malah membeawa jamaah 280 orang lebih, haji plus tidak berangkat bahkan ada yang biasa jual beli visa saja jamaahnya sekitar 2000 orang tidak berangkat, padahal mereka ini bayar lunas dan normal-normal.

Ngungsi
Anda tahukah tuan Abubakar bin Pangeran Jayakarta ? Bahwa mereka yang membayar normal lunas dan sudah menunggu bertahun-tahun itu tidak dapat berangkat. Jumlah di seluruh Indonesia ada 6 000 orang yang tidak berangkat haji dan umroh, karena kesalah fahaman manajemen Depag yang amburadul atau permainan tangan-tangan kotor di lembaga yang mengurusi surga dan neraka itu. Akibatnya karena sudah kadung slametan, sudah kadung syukuran bahkaan sudah kadung minta ijin cuti tahunan atau sekedar ijin ke perusahaan. Bahkan ada yang syukurannya berlebihan sampai sampai tetangga sekelurahan di undang semua sebagai bentuk tahadus bi nikmah dan tidak berangkat, mereka menanggung malu yang terus menerus,.

Yang sabar dan tahan imannya cukup mengungsi keluar negeri di Malaysia atau di Jakarta sembari menunggu musim haji selesai, tetapi yang tidak tahan malu menjadi sakit bahkan stroke berkepanjangan dan mati. Astagfirullah, kondisi ini ternyata di perburuk dengan perilaku anggota DPR RI, yang seharusnya menjadi pengawas atas departemen-departemen atau lembaga eksekutif malah sebaliknya pemintaan yang tinggi akan ibadah haji ini dianggap sebagai ladang bisnis sampingan. Maka tidak heran kalau anggota DPR justru menjadi makelar visa haji. Bayangkan visa haji beredar antara Rp 25 juta sampai Rp 50 juta, padahal ongkos hajinya saja hanya 30 juta, ini kedholiman yang luar biasa bukan ?

Maka saudaraku Gus Bakar Pangeran Jaya Karta anda jangan mudah tergiur oleh iming-iming haji hanya dengan membayar Rp 5 jt atau 25 juta.baik dengan embel-embel sponsor atau kompor, hahaha. Yang bayar normal saja pada tidak berangkat, karena munculnya birokrasi campur setan dan makelar, apalagi yang hanya membayar segitu.

Ada memang haji yang  ongkosnya cekak begini dilakukan oleh para jamaah dan makelar haji yang berseliweran dimana-mana. Para mekelar ini melihat betapa negeri ini sudah tidak dapat memberikan jaminan ekonomi, jaminan keadilan, jaminan ketentraman, jaminan kepastian dan keadilan hukum, bukan penegakan hukum kalau penegakan hukum pasal-pasalnya diatur polisi, jaksa dan hakim, siapa yang bayar banyak bebas, tetapi hukum sudah dikatakan tegak karena  ya diatur itu. Maka jangan heran kalau ada anak nyolong sandal dihukum sekian tahun. Ada di Banten anak di penjara di sel dikantor polisi dibarengkan dengan penjahat dewasa kafena tak kuat membayar dan tidak mendukung tegaknya hukum, hahaha. Sebagai kompensasinya mereka melabuhkan hati ke Tuhannya.

Sebagai seorang yang beragama baik, melihat animo haji dan umroh besar ini mustinya ditolong, diatur dan di premak ke biar bisa berangkat dan sekurang-kurangnya mereka di Makah akan mendoakan negara dan bangsanya. Ttetapi semua ini dianggap sebagai peluang bisnis, mulai Depag sampai makelar di luar Depag menggunakan semua ini sebagai mata pencaharian. Maka makelarnyapun beragam mulai sarjana sampai modin desa, mulai agamawan sampai anggota terhormat DPR RI. Akibatnya mekanisme haji indonesia makin rusak, pantas saja Gus Dur dulu mengusulkan pembubaran Departemen Agama yang justru di rintis oleh Ramandanya sendiri KH. Wahid Hasim. barangkali karena kerusakan birokrasinya.

Karena keadaan yang demikian tinggi pulalah, maka bermunculan biro travel resmi atau tidak resmi yang kelas kota sampai kampung, yang ada ijin sampai yang ijinnya di keluarkan sendiri. Ongkosnyapun bervariasi mulai dari 7 000 dolar sampai 20.000 dolar, tetapi ada yang edan-edanan menawarkan ongkos haji plus 25 juta rupiah saja, sedangkan yang reguler yang resmi 30 juta dan ada yang menawarkan dengan ongkos 7 juta saja.

Para makelar gentayangan ini dengan mudah mendapatkan mangsa dan semua ini seolah-olah sah-sah saja, sehingga mereka berani menawarkan ke kyai-kyai, ke imam-imam mushola dan masjid bahkan ke pesantren-pesantren dengan tidak ragu-ragu. Lebih aneh lagi, sang kyai juga percaya saja akan omongan si makelaran ini, maka bisa di ramalkan giliran berangkat haji mereka sudah siap-siap slematan segala, tetapi bukan menjadi haji mabrur, malah menjadi haji mabur hanya sekedar di unsikan mabur dengan pesawat terbang murah ke Malaysia.

Memprihatinkan
Haji memang menjadi rukun Islam kelima, bahkan iming-iming pahala dari Allah demikian  luar biasa “Al Haju Mabruro laysal jaza ilal janah” haji yang mabrur akan mendapatkan imbalan dari Allah dan imbalan yang pantas untuk perjalanan lintas negera ini adalah surga. Maka banyak orang memaksakan diri untuk berangkat haji, padahal syarat haji itu harus manistatho’ilaihil sabilan. Harus mampu bukan jual tanah sepetak hasil warisan untuk haji.

Kuatnya jamaah haji itu diukur dengan kemampuan hidup. Artinya ekonominya sudah baik tidak meninggalkan hutang yang tidak terbayar dan faham ilmunya serta siap ikhlas hatinya. Musti belajar dulu tetantang tata cara haji yang baik dan benar tidak usah kesusu berangkat.

Kita lihat buku manasik Depag itu demikian tebal-tebal, doannya banyak-banyak, sehingga jadi lucu ketika berdoa di Makah pun mereka membaca. Lha Kiyai saja tidak hafal masak jamaah sudah haji yang kemarin sore laku tanahnya di suruh hafal, hahaha.

Mestinya pihak Depag melibatkan pesantren. Mereka, calon jamaah digiring ke pesantren-pesantren untuk di didik dulu tata cara beribadah, bukan manasik yang singkat dan susah dimengerti. Dengan demikian kkeilmuannya masuk dan sampai pada tataran faham, tidak boleh serampangan. Karena ilmu para jamaah tidak jelas, maka kita sering mendengar keluhan bayar dan berkali-kali masih di minta bayar ini, bayar itu, padahal semua sudah di bayar jamaah 5 – 9 tahun yang lalu.

Pernahkah saudaraku menghitung berapa keuntungan Depag dalam menyelenggarakan haji ? Coba kita bermain matematika sedikit, kalau jamaah haji Indonesia jumlahnya yang disetujui adalah 300.000 sampai 350.000 orang dan membayar Rp 30 juta, harus menunggu 9 tahun, akan muncul perkalian 350.000 x Rp 30 juta x 9 = Rp. xxx trilyun dikalikan 9% bunga bank setahun maka Depag akan dapat riba atau hasil bunga bank Rp. xxx trilyun, uang ini kemana ?

Kalau saja ada kesadaran sifat malingnya agak terobati, maka ada sisihan dana untuk pembelajaran kepada calon haji atau bisa di sumbangkan ke pesantren-pesantren atau musafir atau pembangunan masjid di tanah air. Nah anda lihatkan banyak di sepanjang pantura orang mengemis di jalan-jalan untuk membangun masjid. Kehormatan apa yang diperoleh disini ? Membangun masjid dengan mengemis di jalan-jalan, lalu siapa yang menyumbang itu ?

Haji memang keharusan dan wajib bagi yang mampu, tapi jangan munculkan haji murah hanya untuk memberri kiprahnya para penipu. Haji murah memang mungkin dan sangat mungkin, karena Malaysia juga menerapkan haji murah atas subsidi pemerintah. Tetapi kalau tidak bisa murah ya jangan serakah dengan mengakali jamaah haji dan umroh tho, anda setuju atau tidak setuju silahkan komentari, demi kebaikan umat dan rakyat. Kalau ekonomi semua hajat hidup rakyat sudah terampas, janganlah ibadahpun di jadiakan pelampiasan kesrakahan kita, saya yakin kita bukan nasabnya Suroqoh yang serakah  kan ?
 
Show comments
Hide comments

0 Response to "Haji Murah atau Hajingan ?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel