Kangen Menyapa

Asalamu alaikum saudaraku,

Kangen menyapa adalah pintu pertama yang aku lalui setelah 3 bulan penuh menjalani Ngaji keliling Nusantara. Jadwal demikian padat mulai dari sabang – merauke. Mau bergeser atau membadalkan ke rekan Kiyai, rasanya tidak tega. Panitia rata – rata ketika mendaftarkan acaranya sudah 2 bulan sebelumnya dan demikian mengharapkan saya sebagai pelipur lara.


Maka begitu acara selesai dan ada liwong hari langsung ndaftar Umroh. Namun ya alhamdulillah, begitu mendengar saya mau umroh banyak santri yang ikut ndaftar. Dan di Madinah, di Jedah dan di Makah banyak mukimin dan santri pada nyusul.

Ada yang nungguin di Madinah, ada yang nungguin di hotel Makah, bahkan adik – adik Pengurus NU dan Anshor cabang internasional Jedah seperti mas Ali, mas Thobibudin, mas Nurkholis al Kendali kalau datang berombongan. Mereka minta saya Ngaji juga, hanya saja terasa menyenangkan karena mereka menjadi obat kangen dan biasanya mereka datang sambil bawa pisang goreng, tahu susur dan kurma ajwa juga susu onta.

Besuk malam rencana mereka minta di wifik, bareng jamaah. Karena kamis kami sudah harus terbang ke tanah air, insya Allah tanggal 26 juni 2015 , saya sudah tiba di Jakarta jam 23.00 malam. Jadi kira – kira keluar bandara sekitar jam 00.30 atau setengah satu dinihari.

Kejutan
Yang menggembirakan hati adalah ternyata di Makah, di Madinah banyak ketemu pemirsa aswaja atau fans misterius yang sering melihat saya di youtube. Maka begitu mereka memeluk sambil menyebut nama saya, saya jadi kaget dan bingung. Bagaimana dia dan mereka tahu kalau saya itu saya, dalam hati saya apa wajah saya demikian pasaran nya sampai di kenal diwarung dan di toko, hahahaha.

Kadang ada yang salah juga mentang – mentang kumis saya sudah mulai memutih saya di peluk sambil nyebut. Cak Nun” alhamdulillah”, lha saya kan bukan cak Emha Ainun Najib, hehehe.

Saya biarkan mereka ngmong ngalor ngidul setelah hilang kegembiraan yang berlebihan saya jelas kan saya bukan cak Nun, lho kok suara dan wajahnya sama. Saya jelaskan kami memang jakak aduk hanya beda bapak dan lain ibu. Dia dilahirkan di Jombang dan saya lahir di Gresik desa Ujung Pangkah Kulon, Sedayu. Kalau begitu njengan Gus, tambah meluk lagi, padahal saya lihat dia sudah tiga malam kholwat di Makah tidak mandi tidak balik ke hotel, jadi pelukanya jelas memabukan, hahahaha.

Insya Allah panas matahari dan segala kepenatan hidup dan beratnya perjuangan menjadi hilang ketika kita menjalani ke salikan kita. Melarungkan segala rindu dan persoalan kita kepada Allah dan ketemu saudara se-negeri di rantau adalah rahmad dari Allah yang tersamar. Jadi mereka mau penguk kecut atau berbau harum semua mendatangkan syukur dan gembira yang luar biasa.

Bahkan ada santri dari Bontang pengurus muslimat NU Bontang dengan suaminya ketemu saya di samping hilton (karena posko ngebul saya di situ) minta foto dan nyangoni saya dua kali. Saya sudah menolak dan bilang bekel saya cukup karena disangoni aswaja. Dia tetap ngotot ini untuk keberkahan saya. Iya berkah tetapi masa dua kali nyangoninya, tadi pagi ketemu nyangoni masak malam nyangoni lagi. Jawabnya, pokoknya saya ketemu sampaian seratus kali ya nyangoni setatus kali, saya sampai berdoa ya muyasir walla tu asir . Supaya ditempat kan dengan njenengan gus.

Ya Allah engkau datangkan pelipur lara, banyak yang mengkafir – kafirkan saya, ini engkau datangkan hambamu yang mencintai saya. Ini pasti penguat perjuangan yang engkau alurkan padaku lewat hamba tulus mu dari Bontang Kalimantan Timur yang “Masya Allah” namanya saja saya tidak tahu (karena belum sempat di tanya nama sudah pergi, mengejar solat jamah trawih gus, kata sepasang suami istri itu gembira). Jika engkau mencintai mahluk Allah di dunia tanpa melihat sosok dan jenus apalagi suku bangsa dan agama maka engkau akan di cintai mahluk Allah di langit. (Hadist…)
Show comments

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel