Sumber ruwetnya media sosial

 

Gusnuril.com

    Media sosial seolah tak pernah kehabisan tema perdebatan. Selesai satu permasalahan disusul pertikaian yang lain. Yang mutakhir tentu saja perihal sertifikasi ulama. Wislah, saya tak jadi penonton saja.


  Sebagai santri kalong yang tak pernah mengenyam belajar ala pondok pesantren beneran (belajar ilmu alat, bahasa Arab, nahwu, shorof), jujur saja saya sering "keponthal-ponthal" saat Pak Yai Acun menerangkan perubahan kata dalam bahasa Arab. Saya hanya bisa "ndomblong" sambil mencari analogi yang tepat dan mudah. Tentu saja usaha itu saya maksudkan agar konteks pembicaraan yang Pak Yai sampaikan dapat saya serap. Kadang dalam hati ada sedikit kelakar, kalau pengin "kemlinthi" jangan sekali-kali ngaji sama kiai NU. Blas. Ndak bakal ada celah untuk kemlinthi. Jangankan ngaku-ngaku jadi ulama, jadi santri saja rasa-rasanya saya belum pantas.


    Dari satu ayat saja Kiai Acun mendedahkan panjang lebar. Bahwa satu ayat itu ditujukan untuk siapa? Turunnya kapan? Ada peristiwa apa? Apakah bisa dijadikan landasan hukum? Sifatnya sementara atau permanen? Berlaku untuk orang tunggal atau jama'?


   Saking mumetnya kadang saya cuma bisa ngangguk-ngangguk seolah paham, padahal ya losss... Ndak ada yang nyangkut.


    Salah satu sumber ruwetnya media sosial adalah begitu banyaknya orang yang tidak bisa menempatkan diri. Ndak bisa empan papan dan panggonan. Banyak ahli dadakan yang bermodal link berita. Banjir informasi sepotong-sepotong menjadi jurus ampuh yang seringkali memperkeruh suasana. Orang mulai kehilangan adab. Tidak peduli kenal atau tidak. Tua atau muda. Asal tidak sependapat, langsung "DISIKAT".


    Mari saudaraku. Di tengah-tengah suasana pandemi yang kita belum tahu pasti kapan berakhirnya ini, biarkan ahli yang ada di bidangnya yang bicara. Jangan lompat bidang keilmuan. Mari kita mengambil jeda selama satu pekan ini. Satu hari saja luangkan waktu, berhenti sejenak dari riuhnya dunia dan segala fitnah yang ada di dalamnya.

Mari merapat. Ndepe-ndepe, gondelan sama Pak Kiai. 

Terbuka untuk umum.

Kajian rutin ngaji tafsir Jalalain yang diampu KH. Wahid Maryanto (Pak Acun) dan wirid riyadhoh "Thoriqoh Kebangsaan"

bersama Abah KH. Nuril Arifin Husein.

Hari : Kamis malam Jum'at

Tanggal : 10 September 2020

Waktu : Bakda Isya - Selesai.

Tempat : Pondok Pesantren Soko Tunggal Abdurrahman Wahid.

Jalan Sodong Utara V no: 18.

Jakarta Timur.

Narahubung :085710456091



sumber : https://www.autoyas.com/XX/Unknown/234151206003/gus-nuril

Show comments
Hide comments

0 Response to "Sumber ruwetnya media sosial"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel